Jumat, 14 Juli 2017

Perhatikan Lisan

Bismillahirrohmanirrohim

Hasil kajian kemarin, biasa tiap kali datang kajian, dari sekian jam yg dihabiskan. Alhamdulillah ada satu atau dua poin yg diingat , dijadikan bahan introspeksi dan insyaAlloh coba diamalkan. Kalo ada yg komen dikit amat ngaji dua jam dapetnya cuman satu dua ilmu. Tak ape lah, daripada tak ade sama sekali, ya tak..? Memang segitu mampu nangkepnya. Hehe

Jadi kemarin tema kajiannya mengenai keshalihahan diri. Udah sahalihah apa belum, shalihahnya wanita atau istri itu seperti apa aja dan kiat agar bisa shalihah seperti apa. Salah satu poin yg berkesan adalah wanita shalihah adalah yg bisa menjaga lisan, baik itu lisan yg terucap maupun yg tertuang dalam tulisan-tulisan baik itu berupa status, comment atau tulisan apalah itu.

Jadi sebagai muslimah yg mendambakan shalihah, kitapun dituntut agar bijaksana dalam menggunakan lisan, menjauhi ghibah dan akibat dari ghibah seperti apa. Udah pada tau kan yaa ghibah itu seperti memakan daging saudara sendiri terus balasannya nanti kita dikasih kuku tajam yg terbuat dari tembaga yg dipake buat nyakar diri sendiri. Enak nggak? Serem nggak? *sendirinya paling demen ngegosip,astaghfirullohaladziem*

Jadi ada perkataan ustadz Febri hafidzahulloh yg diingat. Bukan pertama kali denger sih cuman ya pengulangan kali ini membuat diri ini semakin aware gitu. Dimana beliau bilang kurang lebih begini, kalau kita tidak bisa berkata yg baik yg sekiranya menyenangkan hati orang yg mendengarnya maka lebih baik diam. D.I.A.M. taukan diam? No comment. because for this moment silent is better than gold cause it will keep you away from NAR.

Jadi sekiranya mata memandang sesuatu yg ganjil buat kita. Tahanlah lisan mulut dan jemari kita. Iyeee tau walopun gatel banget mau ngasih tausiyah berlandaskan kasih utk saling mengingatkan saudara seiman. Tapi andai kita masih belum bisa membahasakannya dengan baik yaa demi kabaikan diri kita sendiri mending diem aja. Daripada nasihat tak tersampaikan dengan baik malahan sakit hati dan prasangka tak baik yg didapatkan lawan bicara nantinya.

Karena ideal kita belum tentu menjadi idealnya sejuta umat, belum tentu menjadi idealnya orang lain. Maka saat kita punya standar yg baik akan sesuatu maka cukup aplikasikan ke diri sendiri dulu, kalopun tetep mau share, yeahh kayak kata salah satu murid aku dulu "sharing is caring kan miss" bolehlah sharingnya ke inner circle kita. yg bener2 inner circle loh ya, yg sekira mereka tersakiti hatinya oleh lisan kita yg tak pandai dlm bernasihat tp hatinya akan selalu terbuka memberikan maaf utk kita. Bukan yg di luar itu. Karena sebelum memikirkan kebaikan orang lain, kita harus memikirkan diri kita sendiri dulu lah. Jangan gara2 pengen orang lain jd baik ih kitanya panen dosa berlimpah. No way.

Semisal kita liat temen treat ke anaknya begini begitu yg nggak sesuai sm kita yg udah ngikutin panduan menjadi orang tua shalih-shalihah, ya udah biarkan. Mungkin mereka punya ilmu lain yg ingin diaplikasikan. Karena insyaAlloh hampir semua orang tua mau selalu kasih yg terbaik dari mereka buat anaknya. Nggak perlu lah kita memandang anak bayik kita yg berhijab much better than anak mereka yg bandoan. Atau anak mereka yg masih seneng nyanyi lagu anak2 menjadi terlihat agak sesat dimata kita jika dibandingkan dengan anak kita yg udah hapal banyak surah2 juz amma. Liat anak temen sekolah cepet padahal kita penganut anti sekolah di usia terlalu dini terus pengin menjabarkan bahayanya bla bla bla. Udahlah, kalo bahasa di kampung mbah saya itu mbok yo menengo, diamlah karena kita nggak tahu alasan dibalik keputusan mereka seperti itu. There's always story behind every action taken. Beda prioritas bukan jadi alasan kita menjadi so judgemental dengan alasan kasih sayang sesama muslim yaaa sodara2ku yg di rahmati Alloh Subhanahuwata'ala.

Atau pas kita liat prioritas temen yg tampak masih bersifat keduniawian semata, yg tampilan dan amalan zahirnya belumlah seperti kita (yg kita KIRA sudah lebih baik). biarkan. Toh dulu kita pun pernah berada di fase yg sama sebelum mulai belajar mengenal Alloh lebih dekat. Pun itu belum tentu menunjukkan kita ini jd lebih dekat dengan Alloh ketimbang mereka. Who knows dibalik treat mereka yg terlihat seolah tidak mengindahkan agama ternyata tersembunyi do'a-do'a dan ikhtiar-ikhtiar mereka demi keshalih-shalihan anak2 mereka, dibalik banting tulangnya mereka mengejar dunia tersimpan sejuta amalan baik yg mereka kerjakan tanpa kita tahu. Karena sebaik2nya amalan adalah yg hanya diketahui oleh Alloh Jalla Jalaluh. Yg jauh dari riya'.

Karena jilbab yg lebih lebar, celana yg lebih laa isbal dan tampilan yg lebih islami tidak selalu menentukan kualitas iman yg lebih tinggi, melainkan  hanyalah  sebagai ikhtiar kita untuk menjadi pribadi yg lebih baik secara zahir yg insyaAlloh semoga berujung pada konsistensi untuk menghijabi hati dan diri dari segala yg Alloh haramkan. Kalaupun proses hijrah tiap orang berbeda janganlah lalu kita pojokkan, jangan makin sering disindir karena meskipun tujuannya adalah mengingatkan yg ada mereka malah merasa direndahkan, bukan merasa terangkul mereka malah akan merasa ditinggalkan. karena tujuan yg baik tapi disampaikan dengan cara yg kurang baik hasilnya tidak akan menjadi lebih baik, biasanyaaaa.

Jadi daripada LISAN kita menjadi nyinyir dan menghasilkan dosa. Lebih baik kita untaikan doa dalam hati tiap kali melihat kisah "unik" mereka, insyaAlloh itu jauh lebih baik utk mereka dan terutama utk kita sendiri. Berikanlah nasihat itu saat diminta, karena yg seperti itu lebih efektif dan mengena karena hati mereka lebih lapang sehingga siap utk menerima, insyaAlloh.

Sibuklah bermuhasabah diri, mengintrospeksi diri sendiri. Karena kesalahan dan ketidaksempurnaan diri kita mungkin melebihi lautan luasnya. Tak habis waktu untuk memperbaikinya. Biarkan orang lain melakukan hal yg sama ke diri mereka. Sibuklah dengan diri kita, menutup aib kita tanpa perlu ditambah dengan mengorek, membuka dan mengumbar aib orang lain.
Saat tangan kanan sibuk menguras satu lumpur dari cawan dosa kita jangan biarkan tangan kiri menambahkan sepuluh lumpur di saat yg sama ke dalam cawan kita itu. Bukannya minus malah surplus dosa nanti kita di yaumul hisab.
Naudzubillahiminzaliq.

Janganlah terlalu menggebu2 akan sesuatu meski itu dalam kebaikan sekalipun, karena yg menggebu2 itu biasanya akan cepat melelahkan sehingga akan pudar sedikit demi sedikit bagaikan debu.
mengutip perkataan ust. Syafiq hafidzahulloh. Sebaik-baiknyanya amalan itu juga adalah amalan yg sedikit demi sedikit tapi berkesinambungan dan semakin meningkat kualitasnya seiring waktu.
Ibarat perut lapar terus langsung diisi seember makanan dan minuman, awalnya iya kenyang tapi ujung2nya muntah2, mubazir dan mendatangkan mudharat. Sebaiknya pelan-pelan diisi makanan dan minuman sehingga kita bisa mengontrol kapan saat yg tepat utk berhenti makan saat kenyang agar tidak ada yg terbuang. Agar kenyang kita menjadi berkah dan bermanfaat.

Tulisan ini 99% ditulis sebagai bahan introspeksi utk diriku sendiri yg masih begitu senang memakan bangkai saudaraku sendiri. Yg masih sering melukai hati orang lain dengan tajamnya lidahku, pedasnya nasihat2ku.  Mengingatkan diriku sendiri akan begitu besarnya dosa dan azab yg menantiku di akhirat nanti. Mudah2an selalu terbuka pintu maaf di hati mereka atas segala kesombonganku ini dan semoga Alloh Jalla Jalaluh senantiasa membimbingku dan saudara2ku sesama muslim agar menjadi pribadi yg lebih baik yg dijauhkan dari setitik rasa kesombongan dan lebih bijaksana dalam menggunakan lisannya hari ke hari sampai kami dapat memantaskan diri utk hari akhir nanti.
1% lagi ku bagikan dengan harapan semoga bisa memberikan setitik manfaat bagi orang lain.
Aamiin yaa robbal alamin.

~Sita~

*July 15,2017
Ditulis di rumah papah, bisa panjang gini karena lg santai byk tangan yg pegang Bella. Mohon maaf kalau membosankan*

Jumat, 21 April 2017

Secarik cerita tentang mamah

Bismillahirrohmanirrohim,

Ingat dulu banget, ada anak tetangga, temen main yg lagi hamil terus bilang ke aku, "Ta, mama km nggak bikin bakwan kah? Aku pengen ih." terus aku sampein ke mamah kan. Nggak lama mamah belilah bahan buat bakwan, terus dia bikin yg buanyak lengkap sama cocolannya. Terus nyuruh aku anterin ke rumah temen itu, senengnya dia bukan main. Dulu nggak ngerti ya rasanya ngidam, orang akunya masih sekolah.

Sempet heran juga, mak gue kok rajin amat, mau capek2 buat orang, modal sendiri, capek sendiri, trus hasilnya dikasih gratis ke orang. Niat bener gitu.

Terus ingat kalo selama hidupnya mamah ini merupakan orang yg perasaannya halussss banget, nggak tegaan gitu sama org. Jaman sekolah sama kuliah masku dulu, ini rumah udah kaya kostan jamaah gitu. Temennya keluar masuk rumah, dari nginep, makan, sampe ngerjain tugas sama print2nya di rumah, maklum anak kost luar daerah wkwwk.
Jd waktu itu mamah ni tiap ada temen mas yg dtg ke rumah, mesti dimasakin apa aja yg ada, kl ada yg enak dimasakin, kl adanya telor sama mie pun tetap dimasakin. Yg ada dibikinin yg nggak adapun diada2in gitu lah prinsipnya.
Sering mamah bilang seneng banget kalo liat mereka makannya lahap apalagi sampai nambah. Pokoknya rame banget, sampe sahur di bulan ramadhan aja riuh saking ramenya wkwkwk.
Pernah iseng nanya gini "mah kenapa sih mesti masakin "tamunya" mas sampe segitunya, nggak capek apa, Suruh masak sendiri kan bisa." *anaknya agak2 apatis gimana gitu*

Terus dijawabnya gini. "Mbak, mereka itu anak kost, ya kalo duit kiriman org tua mereka cukup, biasanya pas2an, kesian kalo di kost makan mie melulu, itupun kl bs makan. Makanya kalo di rumah ini mama pengen mereka kenyang, ibarat kata mau kuliah atau balik ke kost udah nggak terlalu mikirin perut laper lagi."
Akunya cuma nge-oohh-in gitu. Kesian sih tapi kan mamak gue bukan mensos atau volunteer kemanusiaan gitu, nggak usah segitunya banget juga kali. Seadanya aja baik ama orang jg udah syukur. Pikir gueeeee.

Terus mama nambahin gini, " mbak, mamah gini nih, ngelakuin semua ini dengan harapan andaikan nanti anak2 mamah berada di posisi mereka, atau lagi susah gitu, entar akan ada orang2 lain yg bisa berbuat baik ke anak2 mamah juga, mudahan itu jadi balasan dari Alloh subhanahuwata'ala atas segala perbuatan mamah selama ini." kurang lebihnya gitulah jawabannya.

Sekarang baru ngerti ini nih yg namanya kalo kata ust. Khalid, bertawassul dengan amal kebaikan.
Betapa dahsyatnya kasih syg orang tua terutama ibu, berbuat kebaikan demi kebaikan anak2nya. Bukannya buat dia sendiri. Padahal yg capeknya dia eh yg menuai hasilnya kami, aku si anak apatis.

Nah buah kebaikan mamah ini udah sering banget kami rasakan, terutama aku, entah kenapa bisa dikatakan rejeki ku ini enteng di temen kebanyakannya.
Dulu kalo mau apa gitu, banyakan dikasih temen daripada beli sendiri, dari makanan sampe baju, terus sering banget dapat kemudahan tiap melakukan sesuatu, ada aja yg nolongin gitu.

Kembali lagi ke topik si bakwan di awal td contohnya, Sekarang lagi hamil anak kedua, entah kenapa berapa hari ngidam bakwan gegara ngeliat orang makan bakwan di puskesmas kemarin kalik wkwk, bakwannya itu mirip banget sama buatan ibuk ku, iya ibuk ku, si mamak tiri yg baik hatinya nggak ngalahin almarhumah mamahku. Jadilah request sama papah minta bikinin bakwan sama ibuk, plus petisnya yg nendang juarak bikin kemimpi2 itu.
Hari kunjungan ke rumah papah pun tiba daaann you know, ibuk ku udah siap dengan adonan bakwan satu baskom gede sama petis uenak satu mangkok penuh. Dan akhirnya ngerasain perasaan temen bakwan ku dulu :D

Selain kisah si bakwan ini sebenernya dari hamil pertama suka ngidam dari yg biasa sampai yg aneh, dan biarpun seaneh2nya ngidam aku ibarat kata nyarinya mesti keluar kota atau nyeberang lautan. Berkat kuasa Alloh subhanahuwata'ala hampir selalu dapet aja. dapetnya banyak lagi, terus yg nyariin atau beliin orang lagi. Enak banget ya.
Aku yakin banget ini buah dari ketulusan amal2 baik mamah dulu, mamah yg murah hati, yg suka dan hampir selalu masakin temen2 mas sama temen2 aku jugak. Temen2 adek nggak banyak yg ngerasaain karena keburu ditinggal sebelum kenal mamah :)

untuk semua ini mamah yg nanam, aku yg manen.
Jazakillah khairan mamah,
Jazakalloh khairan papah. Berkat kalian hidup kami, hidup aku jadi jauh lebih mudah.
Semoga segala kebaikan kembali pada kalian dunia dan akhirat, balasan Alloh tidak ada yg bisa membayangkan besarnya segimana.
Semoga kami, aku bisa mengikuti segala kebaikan kalian, bisa berbuat hal yg sama ke keluarga kami dan orang2 lain dan semoga aku akan selalu jadi anakmu dunia dan akhirat. Aamiin.

Sita, edisi kangen mamah sambil ngemil bakwan.