Minggu, 24 Maret 2019

Pilar-Pilar Gemar Rapi (Part 2)

Bismillah, another task dari kelas gemar rapi. Udah task ketiga loh ini by the way.
Langsung saja ya akan saya coba jelaskan point per point.

Baru tahu kalau ada klasifikasi jenis clutterer berdasarkan kepribadian, kirain ya karena males aja gitu dulunyaa.
Jadi dari lima Jenis clutterer berdasarkan kepribadian itu ada jenis the hoarder yang suka nyimpen dan nimbun segala benda macam pemulung rumahan gitu, lalu ada jenis the deferer yang suka menunda-nunda, cita-cita sebatas omongan belaka, terus ada the rebel yang semacam punya trauma masa lalu dengan houseworknya,  juga ada the perfectionist yang kalo nggak sempurna mending do nothing dan terakhir ada the sentimentalist yang suka merasa ada ikatan dan cerita masa lalu dengan tiap benda yang akhirnya semuanya disimpen jadi tumpukan berhala hehe biasanya lebih lekat dengan para wanita yang the sentimentalist ini.
Saya pribadi merasa kalau kepribadian saya ini terkait hampir dengan seluruh jenis clutterer tersebut hehe, tapi setelah didalami lagi saya lebih dominan ke type the deferer yang suka menunda-nunda dan the sentimentalist yang suka agak lebay sama benda-benda yg mengingatkan dengan masa lalu berasa semua benda punya ceritanya masing-masing gitu jadi sayang dibuang.
Kalau suami saya typenya juga sama the deferer karena menunda-nunda udah jadi semacam hobby buat kita berdua. kompak banget udah pokoknya nunda-nunda pekerjaan, bilangnya nanti aja, nanti aja. Nantinya sampe tahun depan belum tentu jadi dikerjain. Our bad ! Selain itu dia juga lebih dominant sisi the perfectionistnya. dia kalau udah fokus kesatu memang jempolan kalo nggak semfurnaaahh maka nggak bakalan berhenti, cuman nunggu mood kesempurnaannya yang begitu hakiki itu yang hilalnya kadang susah terlihat. :p Kalau untuk anak2 belum terlihat lebih menonjol ke jenis yang mana karena masih kecil-kecil, tapi untuk kakak, bakat the deferernya lebih sering terlihat. nurun dari papi maminya sepertinya. :p

Sekarang mau menjabarkan tentang RASA ini sesuai dengan pemahaman saya selama ini.
Pertama, Rapi dan teratur adalah kondisi dimana segala benda tertata dengan baik sehingga memudahkan penghuninya untuk menemukan.
Kedua, Aman dan nyaman adalah saat dimana jika kita berada ditempat itu kita tidak perlu merasa was-was dan khawatir serta merasa nyaman dan senang tinggal disana.
Ketiga, Sehat dan bersih itu dimana dengan tinggal di rumah kita terhindarkan dari penyakit baik dari virus dan bakteri yg sedang melanda karena rumah kita lah yang menjadi benteng dan filternya.
Keempat, Alami dan berkelanjutan. Jujur untuk term alami disini saya kurang begitu yakin ya. mungkin yang dimaksud dengan alami disini adalah dengan kita saat di rumah mencoba menjadi lebih ramah lingkungan. Seperti menerapkan gaya hidup less waste dan jika sudah teramalkan dengan baik agar kedepannya bisa tetap konsisten dengan gaya hidup tersebut.

Untuk keadaan rumah saya sekarang menurut standar hygiene dan safety. Jujur ya untuk sekarang ini bisa dikatakan belum terlalu memenuhi standar hygiene dan safety. kadang bersih rapi aman tenteram kadang amburadul. Tapi sebisa mungkin kami menjauhkan anak-anak dari hal-hal yang sekiranya membahayakan mereka, seperti peletakan benda-benda tajam sama berbagai colokan listrik.

Agar hidup keluarga kecil kami tidak mencemari lingkungan. Upaya-upaya yang sementara dan baru-baru ini dilakukan adalah dengan mencoba mengurangi penggunaan plastik di rumah dengan cara membawa botol minum atau tumbler dan wadah reusable dari rumah untuk berbelanja walaupun kadang masih sering lupa karena belum terlalu terbiasa mudah-mudahan kedepannya kami bisa lebih konsisten dan bisa melakukan lebih banyak upaya lain agar lebih ramah bumi. Aamiin

Sita ummu Bella

Jumat, 15 Maret 2019

Pilar-Pilar Germar Rapi (part 1)

Bismillah udah masuk task kedua aja nih. Semoga kuaaat hehe.
Jadi hasil diskusi dengan mamas kemarin mengenai pilar pertama yaitu tiap-tiap anggota keluarga bertanggung jawab akan barangnya sendiri jadi mereka juga yang seharusnya membereskan barang dan clutter mereka masing-masing.
theorytically sih suami setuju aja dengan pilar nomer satu itu. Memang idealnya seperti ituuuhh katanya yekaaann.
Walaupun pada kenyataannya beliau ini super sibuk sekali sehari-harinya. Sedangkan my babies mereka masih terlalu kicik untuk diminta beres sendiri.
Jadi kedepannya untuk mencoba merealisasikan pilar pertama ini saya akan coba perlahan-lahan dulu saja, slowly but sure is better than having no mevement at all ye khaan.
Pertama untuk suami karena terkendala kesibukan sebagai kepala rumah tangga yg sibuk mencari nafkah maka saya akan memulainya dari hal kecil seperti dengan tidak menambahkan keruwetan dalam rumah, semisal seragam kantor habis dipakai tolong jangan bergelimpangan, taruhlah langsung di mesin cuci atau laundry bag. terus saat hari libur atau saat beliau ini lagi santai bolehlah saya ajak decluttering sama-sama.
Kalau untuk my babies yg kakak kan usianya 5 tahun 1 bulan dan adek baru 1 tahun 5 bulan. Untuk kakak karena sudah mulai mengerti akan kepemilikan asset2 dia ya, jadi saya akan mulai dengan dia memelihara assetnya tersebut sendiri dengan bantuan saya. Karena tahu sendiri kan ya kalau anak 5 tahun berberesnya sebegitu rupa hehe. Untuk adek cukup kami berikan contoh setiap harinya. Dengan contoh dan pengulangan insyaAlloh akan mantap pada waktunya.

Mengenai pola pikir lama dalam keluarga kami, ya saya dulu anak gadis satu-satunya yang manja dan mualesss. Sering diminta bantu mamah saya rahimahallah untuk menggerjakan pekerjaan rumah dan bantu-bantu di dapur tapi memang sayanya yang pemalas jadinya menjadikan saya seperti sekarang yang kurang mahir dalam urusan rumah tangga. Better late than never. Sekarang saya berupaya sekali belajar menjadi pribadi  yang berguna bagi rumah tangga yang sejahtera sentausah.
Lain cerita dengan background suami saya yang merupakan anak laki-laki bontot satu-satunya, dengan dua kakak perempuan dan ditunjang selalu punya art selama masa hidup singlenya menjadikan dia berprinsip kalau sudah ada CUKUP wanita di rumah maka tidak perlu lah laki-laki ngikut urusan domestik, iyalah secara ada mamaknya, mbak-mbaknya serta bibik art-nya. Tapi semua berubah saat pernikahan menyerang. Saat di rumah cuma ada istri dan dua bayik terpaksa mau tak mau beliau turun gunung dengan segala keterbatasan skill yang dia punya :D, Coba aja mau tetap macam kera sakti yang ndekem diem aja bertapa di atas gunung, bisa kebayangkan perang badar akan terus berkecamuk setiap minggunya. MasyaAlloh betapa klopnya kami. Paket kombo duo kalau saya bilang.

Berbekal jadulnya mindset zaman old kami itu lah sekarang setelah mengahadapi rumitnya kenyataan, kami terutama saya menyadari bahwasanya rumah tangga ini ibarat bahtera ya, bahtera punya bersama bukan cuma punya istri atau mamaknya babies seorang. jadi sudah semestinya segalanya ditanggung bersama-sama. Everybody belongs to their own responsibility of their properties and also public properties. Nggak bisa semena-mena dilimpahkan pada satu pihak. Selain itu hal ini juga akan memandirikan diri masing-masing agar tidak selalu bergantung dengan orang lain. Never depends on humans since disappointment will always be their shadow. Belajar dari keterbatasan dan kekurangan kami di masa lalu. kami sebagai orang tua akan semakin membuka diri dengan pemikiran dan pengetahuan baru dan untuk anak-anak kami agar senantiasa menjadi tangguh dan mandiri sehingga selalu bisa menempatkan diri dimanapun mereka berada nanti. Perlahan-lahan kami akan berproses. Berdua kami akan belajar bersama dan bersama-sama mngajarkan hal-hal dan kebiasaan-kebiasan baik pada anak-anak kami. It will start from our home,absolutely.

Mengenai decluttering dengan indikator lagom itu sendiri saya sangat setuju. Karena beberes tanpa decluttering itu akan sia-sia. Karena barang-barang yang menggunung jika hanya dirapikan saja hanya akan jadi kerapian semu yang sangat sementara. Potensi morat-maritnya masih sangatlah tinggi. Akan berbeda sekali dengan kita mengurangi kuantitas mereka secara signifikan dulu baru kemudian dirapikan. Mengurangi tanpa kemudian menambah yang baru dengan jumlah yg sama atau berkali-kali lipat ya maksudnya. So we really need to do decluttering in the first place, the rest will follow.

~Sita ummu Bella~

Kamis, 07 Maret 2019

List Penyebab Clutter

Langsung saja saya disini akan mendeskripsikan penyebab clutter di rumah saya yang mana disebabkan oleh banyak hal diantaranya saya bagi menjadi 2 faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal yang saya maksudkan disini adalah perabot dan benda2 yg kami miliki terlampau banyak kalau menurut saya. Seringnya mereka bertebaran karena tidak memiliki 'rumah' atau memiliki 'rumah' tp mereka nyasar tak pernah pulang ke rumahnya masing setiap selesai digunakan. Rumah kami yang mungil pun terasa semakin mungil karena kami memfungsikannya tidak hanya sebagai tempat tinggal tp juga ruang kerja. Kami menjadikan ruang tamu dan kamar depan sebagai ruang kelas untuk belajar. Praktis untuk penyimpanan barang pribadi dan rumah tangga hanya menyisakan ruang tengah, kamar tengah, kamar tidur kami dan dapur. Hal-hal ini lah yang semakin menjadikan rumah kami semakin terasa sesak.
Adapun faktor internal adalah mindset dan kebiasaan kami di rumah. Yang kadang kala rajin untuk menata namun seriiinngg kalinya kami bersikap  seadanya karena seringnya karena merasa lelah setelah bekerja sehingga tenaga yang tersisa tidak cukup lagi untuk disalurkan pada kegiatan  berbenah.
Kurangnya disiplin,lelah, malas dan ketidakkonsistenan dalam berbenah  serta terlalu banyak barang sementara ruangan yang tersedia sangatlah terbatas  menjadi penyebab dan penunjang segala clutter di rumah kami.
Karena point-point diatas tadi lah yang membuat saya termotivasi untuk bergabung di kelas gemar rapi.
Cita-cita saya agar kedepannya akan tercipta baiti jannati, rumahku surgaku.
Bagaimana mewujudkannya?
Belajar dan berproses utk menghadirkan rumah yg rapi, bersih dan nyaman yang insyaAlloh akan memberikan rasa aman bagi kami sekeluarga.
Dimana rumah akan menjadi tempat kami kembali setelah penat beraktifitas di luar.
Saya ingin keluarga kecil saya selalu rindu untuk kembali ke rumah, rindu berada di hangatnya rumah kami tak peduli seindah dan seramai apapun keadaan di luar sana.
Aamiin.

Sabtu, 02 Maret 2019

Perasaan Saya Menyambut Kelas Gemar Rapi.

Perkenalkan saya Sita dari Banjarmasin. Saya seorang istri dan ibu dari dua balita.
Jadi saya ini aslinya memang bukan orang yg suka bersih-bersih ataupun beres-beres tapi kalau rumah semrawut saya suka sumpek sendiri jd bisa disimpulkan saya ini pribadi yg bisa dibilang malas tapi seneng segalanya rapi gitu, begitu kontradiktifnya bukhaann hehe.
Jadi pertama saya kenal metode konmari itupun dari browsing sana sini sampai jumpalah saya dengan konmari indonesia yang kemudian berevolusi menjadi Gemar Rapi.
Kemarin-kemarin saya sempat lah ikutan hits konmari gitu sampai baca2 bukunya juga. Semangat yang berapi-api itu bertahanlah kurang lebih satu dua bulan lalu tanpa disadari sedikit demi sedikit jadi mulai kembali ke asal, berantakan seperti sedia kala.
Sedih dan capek karena kemarin kan udah menyeluruh banget bersih bersih dan berberesnya. Decluttering pun sudah bikin lemari-lemari di rumah kosong separo lebih, tapi sekarang udah penuh lagi yaa Alloh. Semangat pun sekarang jd hilang, bersih-bersihpun jadi mood-moodan.
Oleh sebab itulah saya jadi semangat ingin belajar dalam komunitas gemar rapi dengan ikut kelas gemar rapi. Saya harap saya bisa benar-benar mengenal dulu karena dulu ya saya  otodidak sekali belajar hasil browsing dan baca sana sini tanpa adanya panduan dari para pendiri. Sehingga kedepannya dengan belajar bersama teman2 di kelas saya bisa memulai dengan tepat dan menjaga konsistensi rapi itu sendiri. Hamasah !