Bismillahirrohmanirrohim,
Sejenak mengingat kembali, mengingat salah satu tujuan utama saya ikut sekolah ini. entah kenapa saya seneng aja nyebutnya sekolah, bukan seminar bukan juga training.
jadi salah satunya selain dari benar-benar tulus ingin belajar bagaimana menjadi orang tua yang lebih baik, terutama saya ya, saya sadar banget dah sebesar apa kapasitas saya, usaha beserta kemampuan parenting yg selama ini saya aplikasikan kepada si gendhuk Bella. sebesar itu pula saya menyadari betapa kurangnya ilmu saya dalam mengasuh anak. ilmu saya hanya berdasarkan ilmu otodidak, ilmu tanya, ilmu googling dan yang terutama ilmu feeling. tanpa pernah benar-benar saya berguru seperti saat saya belajar bersama abah Ihsan di PSPA kemarin. yah saya ingin sekali bisa memberikan yang terbaik untuk anak saya, yang lebih utama lagi saya ingin Bella mendapatkan segala yg terbaik tidak hanya dari saya, tapi dari papahnya juga. combo paket lah ibaratnya kalau di restauran kfc itu. yeah for me two is always better than one. makanya ngotot banget gimana caranya itu kangmas ganteng haruslah ikut sekolah, ikut belajar sama-sama supaya kedepannya kami bisa menyamakan visi,misi dan aksi kami untuk Bella.
naaahh itu tadi alasan super positifnya ya, seperti halnya ada hitam maka ada putih. ada yin dan yang, maka tidak akan eksis suatu hal positif tanpa adanya hal negatif. iyess, sayapun sebenarnya menyimpan alasan bernuansa agak negatif saat mengikutsertakan suami dalam PSPA.
Betapa saya ini hanya manusia biasa yang seringkali dikalahkan oleh rasa lelah, cemburu, marah, ketidak sabaran dan juga iri hati. ya itulah saya. perasaan itulah yg kerapkali saya rasakan dalam menjalni kehidupan berumah tangga. seringkali saat saya merasa lelah terutama secara fisik maka akan merepet ke segala aspek yg saya sebutkan di atas.
saya berikan sebuah contoh dimana saya saat sedang merasa lelah, dimana saya merasa telah memberikan segudang kontribusi untuk keluarga kecil saya. sering saya merasa tidak dihargai, merasa sendiri dalam melakukan segalanya sehingga semakin menebalkan rasa sebal saya pada suami. saya iri melihat dia lempeng-lempeng saja hidupnya saat saya harus bergulat dengan segudang kegiatan di sampingnya. ingin sekali saya membuat dia merasakan segala yg saya rasakan. entah saya kurang ikhlas mungkin dalam.mengerjakan kewajiban saya sehingga perasaan iri itu acapkali datang menghampiri.
Saya selalu merasa sebagai pihak yg dirugikan. karena itu saya ngebet baget ingin suami gabung ikut PSPA, yaitu agar dia mengerti perannya sebagai suami dan ayah. agar dia mengerti betapa payahnya hidup yg saya rasakan selama ini. saya ingin 'menampar' dia di PSPA. itulah yang ada dalam benak saya juga. *ampooonnn yaa masssss*
kembali saat saya sudah duduk manis, siap dan benar-benar membuka pikiran dan hati untuk ilmu yang akan diberikan oleh abah Ihsan. saya sering sekali curi-curi pandang ke arah suami saya yang duduk dibarisan lelaki di sebelah kanan belakang saya. saya bahagia sekali melihatnya disana walaupun saya tau bahwa dia tidak se-excited saya. tapi saya bersyukur sekali dia ada disana menemani saya belajar bersama. dalam hati tidak cukup sekali saya berdoa agar ilmu yang akan kami dapatkan tadi bisa diterima dan meresap dalam jiwanya.
inti dari sekolahnya abah Ihsan ini adalah bagaimana kami bisa merubah diri kami dari orangtua kebetulan menjadi orang tua betulan. ya selama ini saya adalah orang tua kebetulan. saya dan suami adalah pasangan yg kebetulan menjadi orang tua karena Alloh mempercayakan kepada kami seorang Bella untuk kami jaga, kami rawat dan kami cintai. padahal sebelumnya kami sama sekali tidak ada basic parenting. semuanya berjalan secara alami seadanya yg bisa kami berikan, yg terbaik yang bisa kami lakukan. melalui PSPA ini pula saya ingin kami bisa menjadi orang tua betulan. orang tua yg benar-benar mengerti job-desk kami agar kami bisa membuktikan kepada Alloh bahwa tidak salah Alloh sudah mempercayakan Bella pada kami.
selama dua hari ini kami dikenalkan bagaimana caranya menyikapi segala tingkah laku anak berdasarkan tahapan usia, kami juga disadarkan akan tindakan kami yg dulunya kami sangka adalah benar ternyata kebanyakannya kami telah salah.
intisari pertama yg dapat saya ambil adalah jauh sebelum saya ingin menjadikan Bella sebagai pribadi yg baik. maka terlebih dahulu sayalah orang pertama yg harus merubah diri saya menjadi pribadi yang benar-benar baik.
disitulah saya menyadari ternyata jauh sebelum saya menuntut suami saya. saya haruslah terlebih dulu menuntut diri saya sendiri. Saat saya ingin 'menampar' suami saya disini tapi yg saya dapatkan adalah saya yg 'tertampar' disini.
betapa selama ini saya begitu sempit, begitu egois. saya selalu melihat kesalahan dan keburukan suami saya tanpa mengindahkan kesalahan dan keburukan saya sendiri yang mungkin jauh lebih besar daripadanya.
saya selalu ingin diberi sedangkan diri saya tidak selalu memberi. betapa selama ini saya dibuat kalut oleh kotornya pikiran saya sendiri. saya tersesat dalam labirin yg saya ciptakan sendiri.
kenapa saya menginginkan suami saya berubah menjadi lebih baik saat saya sendiri tidaklah lebih baik dari dirinya?
subhanAlloh. betapa malunya saya akan diri saya selama ini yg kerap kali.megeluhkan suami saya kesana kemari. hiks hiks. :'(
maafkan aku wahai suamiku.
cukuplah saya menyadari disini satu persatu kesalahn saya sebagai seorang individu. tidak perlu berlarut-larut menyesali. yg harus saya lakukan sekarang adalah bangkit dan segera memperbaiki diri.
salah satu dari perkataan abah Ihsan yg begitu saya ingat adalah kita SERINGNYA memberikan perhatian berlebih pada hal-hal negatif yang dilakukan oleh anak -ataupun suami dalam case saya ini-. tapi kadang hanya sedikit memperhatikan terhadap banyak hal positif yg telah mereka lakukan.
menusuk sekali mendengarnya. karena itulah yg selama ini saya lakukan. jarang sekali saya mengapresiasi suami saya saat dia membantu saya melakukan beberapa pekerjaan rumah. saya menganggap itu sudah kewajibannya membantu saya toh saya juga sudah banyak membantu dia. selalu kata-kata itu yg bolak-balik keluar dalam hati kecil saya *catat:dalam hati*. Sedangkan saat suami melakukan hal yg tidak membuat saya senang langsung saja tanpa pikir panjang kata-kata tajam keluar dari mulut saya. iya saya memang judes banget jadi orang. *tutupmuka*
Betapa ternyata selama ini suami saya telah begitu sabar mengahadapi sikap kekanak-kanakan saya ini yaa Alloh. dia lebih banyak diam. *diamnya ini yg bikin saya kesel tujuh turunan kadang* duh serba salah banget deh jd suami saya ternyata.
disini saya berjanji akan sedikit demi sedikit merubah pribadi saya. menurunkan ego saya. membuka pikiran saya lebih luas untuk menerima kurang lebihnya suami saya seperti halnya dia yg selalu menerima saya apa adanya. *sabar banget pulak. peluk mamas ganteng*
meskipun tidak serta merta, saya akan berusaha merubah pribadi saya agar bisa menjadi 'rumah' yg menyenangkan sekaligus menenangkan untuk mereka berdua *dan anak-anak kami selanjutnya nanti*
seperti kata abah Ihsan saat seseorang telah berbuat kesalahan maka beri hanya sedikit perhatian pada masalahnya tp berfokuslah pada solusinya, sedikit lah bicara pada saat kesalahan itu telah dibuat. on another hand, banyaklah bicara, hujani pujian dan berikan curahan perhatian untuk mengapresiasi segala hal baik yg telah dilakukan oleh orang-orang yg kita cintai. karena dengan begitu kita akan mengokohkan harga diri mereka, bukan malah mengahancurkan harga diri mereka.
insyaAlloh mudah-mudahan istiqomah dan dimudahkan oleh Alloh.
Lesson learned, the power of giving.
~Saat kita belum bisa untuk saling menghargai. maka hargailah orang lain terlebih dahulu. yakinlah, karena segala apapun perbuatan baik dan buruknya pasti akan diberikan balasan oleh Alloh, tidak ada yg terlewat sekecil apapun itu. insyaAlloh~
p.s. insyaAlloh to be continued, masih banyak poin-poin positif lainnya yg saya dapat dari PSPA dan ingin saya bagikan kepada teman-teman sekalian. semoga bisa memberi kebaikan dengan ridho Alloh.
-Sita-