Bismillah udah masuk task kedua aja nih. Semoga kuaaat hehe.
Jadi hasil diskusi dengan mamas kemarin mengenai pilar pertama yaitu tiap-tiap anggota keluarga bertanggung jawab akan barangnya sendiri jadi mereka juga yang seharusnya membereskan barang dan clutter mereka masing-masing.
theorytically sih suami setuju aja dengan pilar nomer satu itu. Memang idealnya seperti ituuuhh katanya yekaaann.
Walaupun pada kenyataannya beliau ini super sibuk sekali sehari-harinya. Sedangkan my babies mereka masih terlalu kicik untuk diminta beres sendiri.
Jadi kedepannya untuk mencoba merealisasikan pilar pertama ini saya akan coba perlahan-lahan dulu saja, slowly but sure is better than having no mevement at all ye khaan.
Pertama untuk suami karena terkendala kesibukan sebagai kepala rumah tangga yg sibuk mencari nafkah maka saya akan memulainya dari hal kecil seperti dengan tidak menambahkan keruwetan dalam rumah, semisal seragam kantor habis dipakai tolong jangan bergelimpangan, taruhlah langsung di mesin cuci atau laundry bag. terus saat hari libur atau saat beliau ini lagi santai bolehlah saya ajak decluttering sama-sama.
Kalau untuk my babies yg kakak kan usianya 5 tahun 1 bulan dan adek baru 1 tahun 5 bulan. Untuk kakak karena sudah mulai mengerti akan kepemilikan asset2 dia ya, jadi saya akan mulai dengan dia memelihara assetnya tersebut sendiri dengan bantuan saya. Karena tahu sendiri kan ya kalau anak 5 tahun berberesnya sebegitu rupa hehe. Untuk adek cukup kami berikan contoh setiap harinya. Dengan contoh dan pengulangan insyaAlloh akan mantap pada waktunya.
Mengenai pola pikir lama dalam keluarga kami, ya saya dulu anak gadis satu-satunya yang manja dan mualesss. Sering diminta bantu mamah saya rahimahallah untuk menggerjakan pekerjaan rumah dan bantu-bantu di dapur tapi memang sayanya yang pemalas jadinya menjadikan saya seperti sekarang yang kurang mahir dalam urusan rumah tangga. Better late than never. Sekarang saya berupaya sekali belajar menjadi pribadi yang berguna bagi rumah tangga yang sejahtera sentausah.
Lain cerita dengan background suami saya yang merupakan anak laki-laki bontot satu-satunya, dengan dua kakak perempuan dan ditunjang selalu punya art selama masa hidup singlenya menjadikan dia berprinsip kalau sudah ada CUKUP wanita di rumah maka tidak perlu lah laki-laki ngikut urusan domestik, iyalah secara ada mamaknya, mbak-mbaknya serta bibik art-nya. Tapi semua berubah saat pernikahan menyerang. Saat di rumah cuma ada istri dan dua bayik terpaksa mau tak mau beliau turun gunung dengan segala keterbatasan skill yang dia punya :D, Coba aja mau tetap macam kera sakti yang ndekem diem aja bertapa di atas gunung, bisa kebayangkan perang badar akan terus berkecamuk setiap minggunya. MasyaAlloh betapa klopnya kami. Paket kombo duo kalau saya bilang.
Berbekal jadulnya mindset zaman old kami itu lah sekarang setelah mengahadapi rumitnya kenyataan, kami terutama saya menyadari bahwasanya rumah tangga ini ibarat bahtera ya, bahtera punya bersama bukan cuma punya istri atau mamaknya babies seorang. jadi sudah semestinya segalanya ditanggung bersama-sama. Everybody belongs to their own responsibility of their properties and also public properties. Nggak bisa semena-mena dilimpahkan pada satu pihak. Selain itu hal ini juga akan memandirikan diri masing-masing agar tidak selalu bergantung dengan orang lain. Never depends on humans since disappointment will always be their shadow. Belajar dari keterbatasan dan kekurangan kami di masa lalu. kami sebagai orang tua akan semakin membuka diri dengan pemikiran dan pengetahuan baru dan untuk anak-anak kami agar senantiasa menjadi tangguh dan mandiri sehingga selalu bisa menempatkan diri dimanapun mereka berada nanti. Perlahan-lahan kami akan berproses. Berdua kami akan belajar bersama dan bersama-sama mngajarkan hal-hal dan kebiasaan-kebiasan baik pada anak-anak kami. It will start from our home,absolutely.
Mengenai decluttering dengan indikator lagom itu sendiri saya sangat setuju. Karena beberes tanpa decluttering itu akan sia-sia. Karena barang-barang yang menggunung jika hanya dirapikan saja hanya akan jadi kerapian semu yang sangat sementara. Potensi morat-maritnya masih sangatlah tinggi. Akan berbeda sekali dengan kita mengurangi kuantitas mereka secara signifikan dulu baru kemudian dirapikan. Mengurangi tanpa kemudian menambah yang baru dengan jumlah yg sama atau berkali-kali lipat ya maksudnya. So we really need to do decluttering in the first place, the rest will follow.
~Sita ummu Bella~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar