Tampilkan postingan dengan label gemarians. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gemarians. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juli 2019

Task 14 Klaster 3 Kamar Mandi dan Toiletries

Saatnya berbenah kamar mandi dan toilet. Ya kamar mandi dan toilet di rumah gabung jadi satu, jadi disitu kita mandi disitu juga kita mengeluarkan 'hajat'

Kamar mandi dan toilet ideal saya adalah  mereka yang berada di ruang terpisah. kamar mandi ya untuk mandi dan toilet ya untuk BAK dan BAB. Namun karena keterbatasan sekarang sementara ya kami masih bertahan dengan kamar mandi dan toilet all in one.

Hambatan dalam berbenah kamar mandi tidak ada yg berarti karena memang ruangannya mini, tidak besar sama sekali. Paling agak kesulitan dalam membersihkan kerak lantai yang membandel dan lumut di dinding kamar mandi yang lembab.

Terkait checklist RASA, menurut saya yang belum terpenuhi adalah Point Sehat karena saya merasa kamar mandi kurang ventilasi sehingga menyebabkan sirkulasi udara terganggu dan semakin melembabkan ruangan kamar mandi di rumah.

Dalam rangka menjaga kebersihan kamar mandi saya biasa rutin dalam seminggu, dua sampai tiga kali menyikat lantai dengan wipol lalu sebulan dua kali menguras bak mandi.

Senin, 15 Juli 2019

Tugas Klaster 13 Kamar Tidur dan Ruangan Lainnya

Bismillah,

Jadi di rumah kita punya ruang tamu, 3 kamar tidur, satu ruang keluarga sekaligus ruang buat santai nonton tv, dapur, laundry room dan toilet.

Hambatan untuk membenahi ruangan-ruangan di rumah adalah setingnya karena berberesnya sambil ngemong anak dan mengerjakan pekerjaan domestik lainnya, terus kesela wakyu bermain anak-anak lagi jadilah tatanan separuh rapi suka ambyar lagi. Belum lagi anak saya yg pertama usianya 5 tahun suka sekali menyimpan dan menyelipkan apa saja yang dia sebut maianan di segala penjuru rumah.

Nah ruangan yang paling susah untuk di rapikan adalah salah satu kamar tidur yang kami alih fungsikan sebagai ruangan buat taruh lemari-lemari baju dan juga rak mainan anak-anak, semuanya ngumpul disitu. dari pakaian sampai mainan. kadang cucian kering yang belum dilipat pun ngumpul disitu.

Setelah dibenahi tentu saja ada perbedaan yang dirasakan yaitu ruangan menjadi lebih lapang dan nyaman daripada sebelum dibenahi.
kalau sebelumnya ruangan terasa sumpek sekarang sudah lebih lengang dan lega.

mudah-mudahan bisa bertahan terus seperti itu.

Minggu, 07 Juli 2019

Task 12 Klaster 2 : Benda Kenangan

Bismillah,

Benda kenangan yang saya miliki cukup bervariasi mulai dari album foto sampai remeh temeh hasil orat oret anak-anak.

hambatan saat membenahi benda-benda kenangan itu sendiri tentu saja berat di nilai kenangan pada benda tersebut. karena dengan melihat benda kenangan tersebut seringkali memunculkan cerita di masa lalu.

dalam memilahnya saya membaginya kedalam dua sub, yaitu yang benar-benar memorable atau mengingatkan akan hal yang menggembirakan dan benda yang tidak begitu mengandung kenangan.

Faktor pemberat saat harus melepaskan benda-benda kenangan tersebut adalah perasaan kehilangan moment saat saya harus merelakan mereka pergi. seolah-olah kenangan bersama benda tersebut pun ikut pergi dan akan terlupakan.

untuk penataan dan penyimpanan untuk sekarang ini saya kumpulkan di box plastik besar. agar sewaktu2 saya perlu untuk recharge kenangan saya bisa tinggal menuju ke satu tempat.

Minggu, 30 Juni 2019

Tugas klaster 5 Mainan

Bismillah,

Berbenah mainaaaaannn. mainan di rumah lumayan banyak mencar kesana kemari. saat saya mulai berbenah mainan tentu harus menghadapi kakak sebagai garda terdepan. dia hampir selalu menolak tiap saya mendeclutter maina-mainannya yang sudah rusak. dia suka menyiampan segala sesuatu walaupun itu sudah rusak, bisa dibayangkan tumpukan mainannya campur aduk antara yang masih bagus dengan yang sudah tidak jelas bentuk dan rupanya. tapi setiap kali juga saya berikan pengertian kenapa mainan itu harus dibuang semisal rusak dsb.
Adapun hambatan yang saya temukan adalah karena mainannya didominasi benda-benda kecil seukuran jari jadi cukup menyulitkan untuk memilahnya. untuk penyimpanan yang mudah dijangkau pun belum terealisasi sampai sekarang.
untuk kriteria seleksi sementara ini saya hanya membagi mainanan ke dalam.kriteria masih layak pakai dan tidak layak pakai. saya declutter mainan-mainan yg sudah rusak ataupun berbahaya seperti kelereng. karena mainan yang dipakai.kakak dulu sekarang masih bisa dimainkan adik jadi saya tetap simpan.mainan-mainam tersebut.
Untuk penataan pun saya masih mengalami kesulitan jadi sementara saya mencoba kumpulkan mainan dalam beberapa kotak kardus yang rencananya akan saya rotasi setiap 2 minggu untuk.dimainkan oleh anak-anak.
semoga berhasil dengan cara ini.

Minggu, 23 Juni 2019

Tugas klaster 4 Dokumen dan Kertas

Saat berbenah kertas dan dokumen ini terasa cukup menantang karena kertas lumayan banyak bertebaran di rumah ini karena di rumah memang sekalian rumah belajar yang mana kami sering ngeprint utk tiap aktifitas mengajar sehari-hari dan juga suami merupakan pengajar di sekolah dan kampus banyak kertas tugas dari siswa dan mahasiswa sehingga tumpukan kertas semakin meninggi setiap harinya

untuk mendecllutter saya membuat beberapa pembagian kategori. Yaitu kategori berdasarkan ownership, yang mana dibagi menjadi tiga, suami, saya dan kakak, adik belum masuk kategori karena belum sekolah. lalu kategori dokumen penting seperti ijazah dkk dan kategori pekerjaan (dokumen terkait rumah belajar kami)

hambatan dalam berbenah yang saya temui adalah terlalu banyaaaakk jadi memilah memakan cukup banyak waktu, hambatan kedua sering bingung dalam menyeleksi yaitu menentukan asas kegunaannya masih benar perlu atau tidak,mau di declutter takut masih perlu. dan yang ketiga perasaan sayang karena ingin menyimpan momen, biasanya ini di kertas punya anak pertama yang berupa kumpulan hasil pekerjaan dia dari sekolah yang terasa begitu indah hehehe.

Saat memilah saya menggunakan kriteria seleksi seperti masih digunakan, tidak lagi digunakan, used paper dan abu-abu. untuk kriteria used paper saya menggunakan kertas-kertas sisa print agar bisa digunakan lagi jika kondisinya masih bagus. biasanya untuk used paper, saya gunakan sisi kosong lainnya untuk print beberapa tugas dan activity atau sekedar untuk corat-coret. untuk kategori abu-abu saya gunakan untuk dokumen yang masih ragu-ragu untuk dibuang khawatir masih diperlukan. jadi saya tempatkan di kardus khusus agar gampang dicari. rencananya akan saya beri deadline 3-6bulan lewat dari masa itu tidak digunakan baru saya declutter.

Kesulitan dalam menata dokumen adalah bagaimana caranya agar penyimpanan dapat memudahkan untuk pencarian sewaktu-waktu diperlukan. dan saya bercita-cita untuk dokumen bisa terfokus di satu spot agar lebih mudah terjangkau dan meminimalisir agar tidak berserak dimana-mana. cuma untuk saat ini belum bisa saya realisasikan karena terkait perubahan tata letak rumah.

untuk hasil berbenah saya belum bisa melampirkan hasilnya karena prosesnya masih berlangsung. belum mencapai ideal seperti saya sebutkan di atas. tapi paling tidak sekarang kondisi dokumen sudah lebih rapi dan berkurang dari sebelumnya.

Selasa, 21 Mei 2019

tugas klaster 3 buku

bismillah,
proses decluttering
1. untuk buku saya tidak memiliki terlalu banyak jadi saya hanya membagi ke beberapa subkategori berdasarkan kepemilikan yaitu buku anak yang kebanyakan beruba cerita bergambar, buku saya kebanyakan berupa novel, buku resep dan buku kajian, buku suami yang agak banyak karena kebanyakan dipakaiuntuk bahan mengajar sehari-hari.
2. karena bukunya tidak begitu banyak, alhamdulillah semua memiliki rumahnya masing-masing walaupun sering lupa mengembalikan setelah digunakan.
3. untuk buku yang berlebihan karena yang berlebihan saya rasa adalah buku suami dan itu ranah suami jd belum berani saya declutter karena walaupun jumlahnya banyak tapi kebanyakan memang digunakan sebagai bahan mengajar.

proses organizing
1. corak saya sebelumnya tidak bertema kadang saya menyusun berdasarkan ukuran atau kesamaan penulis atau series. tapi setelah mendapatkan materi saya menjadi lebih tertarik untuk menyusun buku terbalik agar menjadi sewarna tapi menurut saya agak terkendala di saat mencari karena mesti membalik buku saat pencarian. sementara ini saya masih memakai penyusunan saya yang lama.
2. kebiasaan baik selama ini dalam penyimpanan buku saya rasa adalah kebiasaan saya yang selalu menyampuli buku saya dengan sampul plastik sesaat  setelah saya beli agar buku menjadi lebih awet dan terawat.

Selasa, 07 Mei 2019

Tugas Klaster 2 Pakaian

Bismillah,
Tugas klaster 2 Pakaian.

a. Proses Decluttering
1. Untuk pakaian saya hanya membagi menjadi dua subkategori yaitu pakaian untuk keluar dan pakaian rumahan. Saya bagi menjadi dua saja karena agar lebih simple saja. Karena saya Ibu rumah tangga saya tidak membaginya ke dalam sub kategori pakaian kerja khusus. Untuk pakaian mengajar di rumah saya mengenakan pakaian untuk keluar td. tapi untuk suami dan anak saya memberlakukan tiga subkategori yaitu dengan tambahan seragam kerja/sekolah.

2. Saya sedikit mengalami overwhelmed pada tas. Untuk menyiasatinya maka saya akan mencoba memberlakukan bag in bag dan mendeclutter beberapa tas yang jarang digunakan.

3. Saya mendeclutter beberapa gamis dan pakaian. untuk gamis karena kondisinya masih layak pakai maka saya donasikan kepada orang disekitar saya yang membutuhkan dan memang akan benar memakai pakaian tersebut. Sebagian saya bawa ke tukang jahit untuk dipermak menjadi pakaian yang lebih kecil untuk dipakai anak saya. Untuk pakaian rumahan yang kondisinya tidak layak pakai saya alihfungsikan sebagai kain pel dan waslap.

b. Proses organising
1. Untuk pakaian dengan kondisi baik yang saya decluttering sebagian saya permak untuk menjadi pakaian anak saya terutama untuk gamis-gamis sebagian yang lain saya donasikan kepada yang benar memerlukan dan untuk pakaian yang kurang layak pakai maka saya alihfungsikan sebagai kain pel atau waslap.

2. Untuk cara melipat saya memilih menggunakan cara lipat konmari karena merasa lebih cocok dan lebih rapi. untuk pakain berbahan lembut saya gantung didalam lemari. Untuk pakaian semua sudah fix di dalam lemari. Beberapa yang digantung diluar biasanya baju yang baru dipakai dan akan digunakan lagi dalam jangka waktu dekat 1-2 hari.

Minggu, 28 April 2019

Tugas Klaster 1 part 2

Bismillah

Task klaster 1 Dapur part 2

1. Setelah semingguan berbenah kulkas dan freezer saya menemukan masih banyak makanan yang terbuang dikarenakan saya tidak memakai food preparation sebelumnya, jadi setiap membeli sesuatu seringnya saya tanpa perencanaan sama sekali alhasil banyak bahan makanan yg kering atau membusuk karena saya sendiri lupa memiliki itu atau pernah membeli itu. Kadang saya juga mengalami defisit karena kurangnya perencanaan saya malah membeli hal yang tidak begitu diperlukan dan malah melupakan barang yang saya perlukan.
Kedepannya saya akan mencoba memakai metode food preparation untuk mengurangi food waste selama ini. Harapan saya dengan food preparation bisa membantu saya lebih hemat dan cermat dalam berbelanja sehingga tidak ada yang mubadzir lagi.

2. Kebiasaan baik yang akan saya coba lakukan adalah dengan rutin
setiap harinya membersihkan sisa masak di dapur agar dapur tetap bersih dan rapi.
seminggu sekali minimal dua minggu sekali melakukan pengecekan isi kulkas dan lemari penyimpanan stok agar semuanya bisa digunakan sebagaimana mestinya tanpa terbuang2 lagi.
Seminggu sekali juga membuat rencana memasak dan belanja.
Dan sebulan sekali membersihkan kulkas dan freezer secara menyeluruh.
mudah-mudahan saya bisa konsisten dalam pelaksanaannya.
Aamiin

Minggu, 14 April 2019

Task klaster 1 Dapur part 1

Bismillahirrohmanirrohim,

A. Proses Decluttering
1. Untuk klaster dapur saya membaginya menjadi beberapa sub kategori. Agar memudahkan saya dalam mengorganisir dan mendeclutter. Dengan membaginya ke dalam sub kategori tersebut saya bisa menjadi lebih fokus dan spesifik. saya membaginya ke dalam beberapa sub antara lain:
a. Kulkas
b. Lemari perkakas dan penyimpanan
c. Peralatan masak
d. Perlengkapan memasak (meliputi bumbu dan stok2 dapur lainnya)

2. Pola makan keluarga saya tidak begitu teratur saya seringkali mencoba food preparation tapi sering gagal karena tidak disiplin dan kurang matangnya perencanaan memasak saya. Untuk barang-barang di dapur saya sebagian kurang memenuhi tapi sebagian lain seringnya malah berlebihan. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab kurang matangnya  perencanaan memasak saya yang mengakibatkan gagalnya food preparation yang saya buat yang dikarenakan kurang lengkapnya persiapan memasak saya baik dari bumbu ataupun yang lainnya. Disisi lain saya seringbmemiliki suatu barang secara berlebihan karena saya lupa memili barang tersebut sehingga saya membeli lagi untuk kesekian kali yang mengakibatkan menumpuknya stok bahan tersebut. Bahkan kadang sampai saya lupa kalau memiliki suatu benda, sering saya jumpai belanjaan saya yang melampaui masa expired karena kurang terorganisir dan terlupa.

3. Karena seringnya memiliki barang yang berlebih baru-baru ini saya melakukan declutter dengan cara mengumpulkan semua barang perlengkapan dapur, saya cek yang masih layak dan aman untuk digunakan.
Saya buang semua yang sudah melampaui batas penggunaan, tidak saya donasikan tentunya karena akan membahayakan orang lain. Saya buang isinya dari kemasan untuk mencegah disalahgunakan oleh pemulung. Sebagian bungkus plastik saya masukkan ke dalam botol  untuk dijadikan ecobrick, sisa bahan botol saya buang ke tukang sampah.

B. Proses Organising
1. Saya mengawali declutter isi kulkas, karena kondisina sudah urgent saat itu. Kulkas saya penuh sesak oleh barang2 sehingga merusak mood memasak saya. Boro-boro bikin food preparation, melihat isi kulkas saja saya sudah senewen.  Yang ternyata isi kulkas setelah saya declutter saya bisa menyisihkan hampir separo isinya, yang berupa sayur kering atau busuk. Jadi untuk itu saya tidak sisihkan melainkan langsung saya buang. Untuk lemari perkakas saya menyisihkan banyak kontainer plastik sisa bungkus makanan yang dulu saya simpan untuk beberapa keperluan yang nyatanya tidak terealisasi malah ujungnya memenuhi tempat saja. kemarin saya sisihkan dan kemudian diminta oleh art saya.
2. Untuk kulkas saya merasa sudah lebih baik daripada saat sebelum declutter. Tapi saya merasa bahwa saya masih memiliki cukup banyak barang di dalam.kulkas. Masih sedikit kurang dari prinsip RASA. Masih belum terlalu rapi, teratur,nyaman, sehat dan bersih. Kedepannya saya merasa masih perlu untuk mendeclutter beberapa barang lagi dan mereorganize isi kulkas dan lemari perkakas saya. Setelah tercapai maka saya akan mencoba agar lebih ramah pada alam dan bisa berkelanjutan mempertahankannya. Tidak belang kambingan seperti dulu.
Sekian dulu untuk task kali ini yaa.

Sita ummu Bella

Minggu, 24 Maret 2019

Pilar-Pilar Gemar Rapi (Part 2)

Bismillah, another task dari kelas gemar rapi. Udah task ketiga loh ini by the way.
Langsung saja ya akan saya coba jelaskan point per point.

Baru tahu kalau ada klasifikasi jenis clutterer berdasarkan kepribadian, kirain ya karena males aja gitu dulunyaa.
Jadi dari lima Jenis clutterer berdasarkan kepribadian itu ada jenis the hoarder yang suka nyimpen dan nimbun segala benda macam pemulung rumahan gitu, lalu ada jenis the deferer yang suka menunda-nunda, cita-cita sebatas omongan belaka, terus ada the rebel yang semacam punya trauma masa lalu dengan houseworknya,  juga ada the perfectionist yang kalo nggak sempurna mending do nothing dan terakhir ada the sentimentalist yang suka merasa ada ikatan dan cerita masa lalu dengan tiap benda yang akhirnya semuanya disimpen jadi tumpukan berhala hehe biasanya lebih lekat dengan para wanita yang the sentimentalist ini.
Saya pribadi merasa kalau kepribadian saya ini terkait hampir dengan seluruh jenis clutterer tersebut hehe, tapi setelah didalami lagi saya lebih dominan ke type the deferer yang suka menunda-nunda dan the sentimentalist yang suka agak lebay sama benda-benda yg mengingatkan dengan masa lalu berasa semua benda punya ceritanya masing-masing gitu jadi sayang dibuang.
Kalau suami saya typenya juga sama the deferer karena menunda-nunda udah jadi semacam hobby buat kita berdua. kompak banget udah pokoknya nunda-nunda pekerjaan, bilangnya nanti aja, nanti aja. Nantinya sampe tahun depan belum tentu jadi dikerjain. Our bad ! Selain itu dia juga lebih dominant sisi the perfectionistnya. dia kalau udah fokus kesatu memang jempolan kalo nggak semfurnaaahh maka nggak bakalan berhenti, cuman nunggu mood kesempurnaannya yang begitu hakiki itu yang hilalnya kadang susah terlihat. :p Kalau untuk anak2 belum terlihat lebih menonjol ke jenis yang mana karena masih kecil-kecil, tapi untuk kakak, bakat the deferernya lebih sering terlihat. nurun dari papi maminya sepertinya. :p

Sekarang mau menjabarkan tentang RASA ini sesuai dengan pemahaman saya selama ini.
Pertama, Rapi dan teratur adalah kondisi dimana segala benda tertata dengan baik sehingga memudahkan penghuninya untuk menemukan.
Kedua, Aman dan nyaman adalah saat dimana jika kita berada ditempat itu kita tidak perlu merasa was-was dan khawatir serta merasa nyaman dan senang tinggal disana.
Ketiga, Sehat dan bersih itu dimana dengan tinggal di rumah kita terhindarkan dari penyakit baik dari virus dan bakteri yg sedang melanda karena rumah kita lah yang menjadi benteng dan filternya.
Keempat, Alami dan berkelanjutan. Jujur untuk term alami disini saya kurang begitu yakin ya. mungkin yang dimaksud dengan alami disini adalah dengan kita saat di rumah mencoba menjadi lebih ramah lingkungan. Seperti menerapkan gaya hidup less waste dan jika sudah teramalkan dengan baik agar kedepannya bisa tetap konsisten dengan gaya hidup tersebut.

Untuk keadaan rumah saya sekarang menurut standar hygiene dan safety. Jujur ya untuk sekarang ini bisa dikatakan belum terlalu memenuhi standar hygiene dan safety. kadang bersih rapi aman tenteram kadang amburadul. Tapi sebisa mungkin kami menjauhkan anak-anak dari hal-hal yang sekiranya membahayakan mereka, seperti peletakan benda-benda tajam sama berbagai colokan listrik.

Agar hidup keluarga kecil kami tidak mencemari lingkungan. Upaya-upaya yang sementara dan baru-baru ini dilakukan adalah dengan mencoba mengurangi penggunaan plastik di rumah dengan cara membawa botol minum atau tumbler dan wadah reusable dari rumah untuk berbelanja walaupun kadang masih sering lupa karena belum terlalu terbiasa mudah-mudahan kedepannya kami bisa lebih konsisten dan bisa melakukan lebih banyak upaya lain agar lebih ramah bumi. Aamiin

Sita ummu Bella

Jumat, 15 Maret 2019

Pilar-Pilar Germar Rapi (part 1)

Bismillah udah masuk task kedua aja nih. Semoga kuaaat hehe.
Jadi hasil diskusi dengan mamas kemarin mengenai pilar pertama yaitu tiap-tiap anggota keluarga bertanggung jawab akan barangnya sendiri jadi mereka juga yang seharusnya membereskan barang dan clutter mereka masing-masing.
theorytically sih suami setuju aja dengan pilar nomer satu itu. Memang idealnya seperti ituuuhh katanya yekaaann.
Walaupun pada kenyataannya beliau ini super sibuk sekali sehari-harinya. Sedangkan my babies mereka masih terlalu kicik untuk diminta beres sendiri.
Jadi kedepannya untuk mencoba merealisasikan pilar pertama ini saya akan coba perlahan-lahan dulu saja, slowly but sure is better than having no mevement at all ye khaan.
Pertama untuk suami karena terkendala kesibukan sebagai kepala rumah tangga yg sibuk mencari nafkah maka saya akan memulainya dari hal kecil seperti dengan tidak menambahkan keruwetan dalam rumah, semisal seragam kantor habis dipakai tolong jangan bergelimpangan, taruhlah langsung di mesin cuci atau laundry bag. terus saat hari libur atau saat beliau ini lagi santai bolehlah saya ajak decluttering sama-sama.
Kalau untuk my babies yg kakak kan usianya 5 tahun 1 bulan dan adek baru 1 tahun 5 bulan. Untuk kakak karena sudah mulai mengerti akan kepemilikan asset2 dia ya, jadi saya akan mulai dengan dia memelihara assetnya tersebut sendiri dengan bantuan saya. Karena tahu sendiri kan ya kalau anak 5 tahun berberesnya sebegitu rupa hehe. Untuk adek cukup kami berikan contoh setiap harinya. Dengan contoh dan pengulangan insyaAlloh akan mantap pada waktunya.

Mengenai pola pikir lama dalam keluarga kami, ya saya dulu anak gadis satu-satunya yang manja dan mualesss. Sering diminta bantu mamah saya rahimahallah untuk menggerjakan pekerjaan rumah dan bantu-bantu di dapur tapi memang sayanya yang pemalas jadinya menjadikan saya seperti sekarang yang kurang mahir dalam urusan rumah tangga. Better late than never. Sekarang saya berupaya sekali belajar menjadi pribadi  yang berguna bagi rumah tangga yang sejahtera sentausah.
Lain cerita dengan background suami saya yang merupakan anak laki-laki bontot satu-satunya, dengan dua kakak perempuan dan ditunjang selalu punya art selama masa hidup singlenya menjadikan dia berprinsip kalau sudah ada CUKUP wanita di rumah maka tidak perlu lah laki-laki ngikut urusan domestik, iyalah secara ada mamaknya, mbak-mbaknya serta bibik art-nya. Tapi semua berubah saat pernikahan menyerang. Saat di rumah cuma ada istri dan dua bayik terpaksa mau tak mau beliau turun gunung dengan segala keterbatasan skill yang dia punya :D, Coba aja mau tetap macam kera sakti yang ndekem diem aja bertapa di atas gunung, bisa kebayangkan perang badar akan terus berkecamuk setiap minggunya. MasyaAlloh betapa klopnya kami. Paket kombo duo kalau saya bilang.

Berbekal jadulnya mindset zaman old kami itu lah sekarang setelah mengahadapi rumitnya kenyataan, kami terutama saya menyadari bahwasanya rumah tangga ini ibarat bahtera ya, bahtera punya bersama bukan cuma punya istri atau mamaknya babies seorang. jadi sudah semestinya segalanya ditanggung bersama-sama. Everybody belongs to their own responsibility of their properties and also public properties. Nggak bisa semena-mena dilimpahkan pada satu pihak. Selain itu hal ini juga akan memandirikan diri masing-masing agar tidak selalu bergantung dengan orang lain. Never depends on humans since disappointment will always be their shadow. Belajar dari keterbatasan dan kekurangan kami di masa lalu. kami sebagai orang tua akan semakin membuka diri dengan pemikiran dan pengetahuan baru dan untuk anak-anak kami agar senantiasa menjadi tangguh dan mandiri sehingga selalu bisa menempatkan diri dimanapun mereka berada nanti. Perlahan-lahan kami akan berproses. Berdua kami akan belajar bersama dan bersama-sama mngajarkan hal-hal dan kebiasaan-kebiasan baik pada anak-anak kami. It will start from our home,absolutely.

Mengenai decluttering dengan indikator lagom itu sendiri saya sangat setuju. Karena beberes tanpa decluttering itu akan sia-sia. Karena barang-barang yang menggunung jika hanya dirapikan saja hanya akan jadi kerapian semu yang sangat sementara. Potensi morat-maritnya masih sangatlah tinggi. Akan berbeda sekali dengan kita mengurangi kuantitas mereka secara signifikan dulu baru kemudian dirapikan. Mengurangi tanpa kemudian menambah yang baru dengan jumlah yg sama atau berkali-kali lipat ya maksudnya. So we really need to do decluttering in the first place, the rest will follow.

~Sita ummu Bella~

Kamis, 07 Maret 2019

List Penyebab Clutter

Langsung saja saya disini akan mendeskripsikan penyebab clutter di rumah saya yang mana disebabkan oleh banyak hal diantaranya saya bagi menjadi 2 faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal yang saya maksudkan disini adalah perabot dan benda2 yg kami miliki terlampau banyak kalau menurut saya. Seringnya mereka bertebaran karena tidak memiliki 'rumah' atau memiliki 'rumah' tp mereka nyasar tak pernah pulang ke rumahnya masing setiap selesai digunakan. Rumah kami yang mungil pun terasa semakin mungil karena kami memfungsikannya tidak hanya sebagai tempat tinggal tp juga ruang kerja. Kami menjadikan ruang tamu dan kamar depan sebagai ruang kelas untuk belajar. Praktis untuk penyimpanan barang pribadi dan rumah tangga hanya menyisakan ruang tengah, kamar tengah, kamar tidur kami dan dapur. Hal-hal ini lah yang semakin menjadikan rumah kami semakin terasa sesak.
Adapun faktor internal adalah mindset dan kebiasaan kami di rumah. Yang kadang kala rajin untuk menata namun seriiinngg kalinya kami bersikap  seadanya karena seringnya karena merasa lelah setelah bekerja sehingga tenaga yang tersisa tidak cukup lagi untuk disalurkan pada kegiatan  berbenah.
Kurangnya disiplin,lelah, malas dan ketidakkonsistenan dalam berbenah  serta terlalu banyak barang sementara ruangan yang tersedia sangatlah terbatas  menjadi penyebab dan penunjang segala clutter di rumah kami.
Karena point-point diatas tadi lah yang membuat saya termotivasi untuk bergabung di kelas gemar rapi.
Cita-cita saya agar kedepannya akan tercipta baiti jannati, rumahku surgaku.
Bagaimana mewujudkannya?
Belajar dan berproses utk menghadirkan rumah yg rapi, bersih dan nyaman yang insyaAlloh akan memberikan rasa aman bagi kami sekeluarga.
Dimana rumah akan menjadi tempat kami kembali setelah penat beraktifitas di luar.
Saya ingin keluarga kecil saya selalu rindu untuk kembali ke rumah, rindu berada di hangatnya rumah kami tak peduli seindah dan seramai apapun keadaan di luar sana.
Aamiin.